Cerpen
Selembar Foto
Senja mulai menghilang jingganya perlahan berubah
kelabu. Kala itu aku sedang menghisap rokok di depan meja kamar kos ku. Tak sengaja
tersenggol asbak jatuh dan abu rokok berserakan ke bawah meja, dengan perasaan
malas ku pungut kembali asbak itu sampai terlihat selembar foto usang tanpa bingkai
di ujung lantai. Ku bersihkan foto yang agak kotor itu dengan baju yang
kukenakan. Dari selembar foto yang kuusap tadi terlihat seorang perempuan dengan
senyum dan matanya yang menarik seolah mengarahkan senyuman dan lirikannya
kearahku.
Mungkin kalian
ingin tahu siapa perempuan itu? Sudahlah! Intinya dia adalah bagian masa
laluku. Walaupun terkadang aku tahu bahwa aku dan dia tak bisa bersama, tapi
mengapa saat ini aku seperti ingin tahu kabarnya. Entahlah aku tak tahu siapa
yang akan membantuku untuk bertanya kabarnya saat ini. Aku masukan foto itu kedalam
laci meja dan kembali kubersihkan lantai yang kotor tadi.
Waktu berlalu malam semakin gelap diselingi angin yang
dingin melingkari tubuhku. Ku seduh kopi instan untuk menghangatkan badan dan
menemaniku mengerjakan tugas kuliah. Suara ketikan dan detak waktu seakan
berpacu mengalahkanku. Ku matikan laptop diatas meja bukan berarti aku selesai tapi
memang jenuh dan ingin sudah. Sambil kutarik laci meja dan kupandangi foto itu
kembali. Heran, jika memikirkanmu seperti tak ada jenuhnya.
Lama sekali sampai ku tersadar dari lamunan kosongku.
Mana mungkin aku dan kamu bersama, kamu telah dimilikinya bukan? Meskipun aku sangat menginginkanmu tapi
aku tahu aku bukan siapa-siapamu yang ingin mencoba berontak, hidupku juga
butuh proses untuk menghilangkan rasa kepadamu menjadi biasa-biasa saja.
Kuambil rokok dan kunyalakan kemudian kutarik panjang
lalu ku hempaskan asapnya ke langit-langit menjadi kepulan putih yang riang menari-nari
kemudian hilang perlahan tersapu angin. Yang berlalu terkadang datang menghampiri
memamerkan keindahan-keindahan masa yang tak akan terulang, masa lalu menjadi
pelajaran bagaimana melepaskan dan menerima penyesalan. Seperti melihatnya
bahagia bersama yang lain dan aku merasa bingung karena hanya bisa menyaksikan.
Kukepulkan kembali asap dari mulutku kemudian aku kipaskan
tanganku untuk menghilangkan asapnya namun masih terlihat sisa-sisa asap tadi.
Sempat aku melupakan semuanya tetapi perasaan itu datang kembali menghampiri
kehidupanku yang saat ini sepi, meski perasaan ini salah tetapi aku bahagia dan
munafikkah aku tidak menginginkannya?
Malam siap
berkemas pagi datang menjelang. Tak terasa waktu berjalan cepat aku pun merasa
lelah ingin segera berbaring diatas kasur seraya memejamkan mata. Aku harap
melupakan racauanku tadi dalam tidurku dan semoga kalian pun begitu.
Puisi
Cinta
Tak perlu dicari dia tak hilang
Tak perlu dikejar dia tak lari
Tak perlu ditangisi dia tak mati
Tanya aku saja dimana dia
Dia diujung sana di paling dalam
Hanya bersembunyi dibalik hatimu
Rendhy Bhaskara Saputra
17113384
3KA22