Selasa, 17 November 2015

SOFTSKILL 2


Cerpen
Selembar Foto
Senja mulai menghilang jingganya perlahan berubah kelabu. Kala itu aku sedang menghisap rokok di depan meja kamar kos ku. Tak sengaja tersenggol asbak jatuh dan abu rokok berserakan ke bawah meja, dengan perasaan malas ku pungut kembali asbak itu sampai terlihat selembar foto usang tanpa bingkai di ujung lantai. Ku bersihkan foto yang agak kotor itu dengan baju yang kukenakan. Dari selembar foto yang kuusap tadi terlihat seorang perempuan dengan senyum dan matanya yang menarik seolah mengarahkan senyuman dan lirikannya kearahku.
 Mungkin kalian ingin tahu siapa perempuan itu? Sudahlah! Intinya dia adalah bagian masa laluku. Walaupun terkadang aku tahu bahwa aku dan dia tak bisa bersama, tapi mengapa saat ini aku seperti ingin tahu kabarnya. Entahlah aku tak tahu siapa yang akan membantuku untuk bertanya kabarnya saat ini. Aku masukan foto itu kedalam laci meja dan kembali kubersihkan lantai yang kotor tadi.
Waktu berlalu malam semakin gelap diselingi angin yang dingin melingkari tubuhku. Ku seduh kopi instan untuk menghangatkan badan dan menemaniku mengerjakan tugas kuliah. Suara ketikan dan detak waktu seakan berpacu mengalahkanku. Ku matikan laptop diatas meja bukan berarti aku selesai tapi memang jenuh dan ingin sudah. Sambil kutarik laci meja dan kupandangi foto itu kembali. Heran, jika memikirkanmu seperti tak ada jenuhnya.
Lama sekali sampai ku tersadar dari lamunan kosongku. Mana mungkin aku dan kamu bersama, kamu telah dimilikinya  bukan? Meskipun aku sangat menginginkanmu tapi aku tahu aku bukan siapa-siapamu yang ingin mencoba berontak, hidupku juga butuh proses untuk menghilangkan rasa kepadamu menjadi biasa-biasa saja.
Kuambil rokok dan kunyalakan kemudian kutarik panjang lalu ku hempaskan asapnya ke langit-langit menjadi kepulan putih yang riang menari-nari kemudian hilang perlahan tersapu angin. Yang berlalu terkadang datang menghampiri memamerkan keindahan-keindahan masa yang tak akan terulang, masa lalu menjadi pelajaran bagaimana melepaskan dan menerima penyesalan. Seperti melihatnya bahagia bersama yang lain dan aku merasa bingung karena hanya bisa menyaksikan.
Kukepulkan kembali asap dari mulutku kemudian aku kipaskan tanganku untuk menghilangkan asapnya namun masih terlihat sisa-sisa asap tadi. Sempat aku melupakan semuanya tetapi perasaan itu datang kembali menghampiri kehidupanku yang saat ini sepi, meski perasaan ini salah tetapi aku bahagia dan munafikkah aku tidak menginginkannya?
 Malam siap berkemas pagi datang menjelang. Tak terasa waktu berjalan cepat aku pun merasa lelah ingin segera berbaring diatas kasur seraya memejamkan mata. Aku harap melupakan racauanku tadi dalam tidurku dan semoga kalian pun begitu.





Puisi

Cinta
Tak perlu dicari dia tak hilang
Tak perlu dikejar dia tak lari
Tak perlu ditangisi dia tak mati
Tanya aku saja dimana dia
Dia diujung sana di paling dalam
Hanya bersembunyi dibalik hatimu






Rendhy Bhaskara Saputra
17113384
3KA22